The elevator to success
is out of order.
You’ll have to use the stairs one step at a time.
Joe Girard

If everyone is thinking alike,
then somebody isn’t thinking.
George S. Patton

Wanting something is not enough. You must hunger for it.
Your motivation must be
absolutely compelling
in order to overcome
the obstacles that will
invariably come your way.
Les Brown

Consider the postage stamp;
its usefulness consists
in the ability to stick to one thing
till it gets there.
Josh Billings

The harder the conflict, the more glorious the triumph.
What we obtain to cheaply,
we esteem too lightly.
Thomas Paine,
We cannot rise higher
than our thought of ourselves.
Orsen Swett Marden
Goals are dreams
with deadlines.
Diana Scharf Hunt
Problems are only opportunities
in work clothes.
Henry Kaiser
February 26th, 2008
Facts or Myths? It’s a Fact!
Data Depdiknas:
Jumlah mahasiswa lulus PTN dan PTS Tahun Ajaran 2005/2006: 323.902 orang. Apakah semua lulusan terserap pasar? Tidak!
Lulusan yang kalah persaingan pasar hanya akan menambah angka pengangguran, karena kenaikan 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan 265.000 lapangan kerja baru (Harian “Kompas”, 11 Februari 2008)
Data Survei Angkatan Kerja Nasional perFebruari 2007 Badan Pusat Statistik:
Jumlah penganggur dari kalangan perguruan tinggi meningkat. Jika pada Agustus 2006 penganggur dari kalangan terdidik ini sebanyak 673.628 orang atau 6,16 persen, setengah tahun kemudian jumlah ini naik menjadi 740.206 atau 7,02 persen
Facts or Myths?? It’s a Fact!!
Asosiasi Pengusaha Indonesia:
60 persen dari 11,6 juta penganggur di Indonesia pada tahun 2007 berusia di bawah 25 tahun. Jumlah angkatan muda yang menganggur di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah di negara-negara tetangga, seperti Malaysia 11 persen dan Filipina 16 persen
Pada tahun 2000 – 2006 tingkat pengangguran di sebagian besar negara ASEAN stabil bahkan menurun, sebaliknya Indonesia malah naik dari 6 persen menjadi 10,4 persen. Laporan PBB Mei 2007 menyebutkan tingkat pengangguran di Indonesia tertinggi di antara negara-negara ASEAN (Harian “Kompas”, 16 Februari 2008)
Facts or Myths??? It’s a Fact!!! (Cappee deehh!!!)
3 dari 4 lulusan perguruan tinggi memilih sebagai karyawan dengan menerima gaji rutin
13 persen lulusan perguruan tinggi berusaha seorang diri
Hanya 5 persen yang membuka usaha dengan mempekerjakan karyawan yang dibayar tetap (Harian “Kompas”, 16 Februari 2008)
Words of Wisdom
“Kita hidup dalam sebuah ekonomi pengetahuan (knowledge economy) dan sebuah masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Ekonomi pengetahuan bertumbuh karena adanya kreativitas dan kemampuan mencipta yang memungkinkan pemecahan masalah secara cerdas (ingenuity). Sekolah dalam masyarakat berpengetahuan harus menciptakan kualitas ini; kalau tidak, masyarakat dan bangsa akan ditinggalkan.” (Hargreaves, A. (2003) Teaching in the Knowledge Society: Education in the Age of Insecurity. New York: Teachers’ College Press and Buckingham: Open University Press)
Andrew Hargreaves adalah Thomas More Brennan Chair in Education di Lynch School of Education, Boston College. Misi utama dari Chair ini adalah untuk mengembangkan kesejahteraan soial dan menghubungkan antara teori dan praktek di pendidikan. Keahlian Andy Hargreaves adalah kepemimpinan berkelanjutan, masyarakat belajar, perubahan kependidikan, dan emosi pembelajaran
Refleksi (bukan Foot Reflexology!!)
Jika selama menjadi masa pendidikan siswa tidak pernah mengalami apa artinya menjadi kreatif, mengalami semangat belajar tinggi karena tumbuhnya motivasi internal belajar, jangan pernah berharap semangat kewirausahaan akan tumbuh. Jangan pernah berharap kreativitas dan inovasi akan hadir dalam diri generasi muda intelektual kita
Kreativitas dan inovasi hanya dapat tumbuh dari jiwa merdeka yang memiliki motivasi internal dalam belajar
Entrepreneurship: Kamu dan Aku untuk Kita Bersama
Di Amerika Serikat terdapat 11 persen wirausaha dari jumlah penduduk. Di Singapura ada sekitar 7 persen. Di Indonesia baru sekitar 0,18 persen
“Semangat kewirausahaan dinilai menjadi salah satu instrumen efektif untuk menghapus kemiskinan dan ketertinggalan sebuah bangsa. Para wirausaha atau entrepreneur selalu membuka lapangan kerja, bukan mencari kerja. Mereka efektif menyerap lonjakan jumlah penganggur yang menggelisahkan bangsa. Jiwa kewirausahaan akan memunculkan motivasi untuk maju dan berjiwa inovator. Kewirausahaan akan memindahkan rakyat ke wilayah yang jauh lebih subur dan menyenangkan. Kalau ini terjadi, berarti penganggur dikurangi dan kegelisahan atas meningkatnya angka pengangguran menjadi berkurang.” (Kuliah Umum Pelatihan Kewirausahaan Ciputra Foundation di Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada 29 Oktober 2007)
Entrepreneurship: Kamu dan Aku untuk Kita Bersama
Belajar kewirausahaan lebih ke arah pembentukan cara berpikir. Wirausahawan mempunyai karakter kuat, seperti gemar mencari peluang, berani mengambil resiko yang terukur, kreatif, inovatif, berintegritas, dan jujur. Tak semua murid diharapkan menjadi wirausahawan. Tetapi dengan bekal pendidikan kewirausahaan, murid mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya
Pendidikan kewirausahaan tidak terbatas kepada suatu mata pelajaran atau mata kuliah saja, melainkan dapat diintegrasikan ke berbagai bidang lainnya. Setiap bidang kehidupan dapat dikombinasikan dengan kewirausahaan. Dengan demikian peserta didik mempunyai banyak pilihan dan tidak sekadar menjadi pekerja
Entrepreneurship dan Creative Industry: Sejola Sejoli
Industri kreatif diyakini akan tumbuh pesat dan mampu meningkatkan pendapatan negara secara signifikan. Guna mengembangkan potensi industri kreatif ini, peran dunia pendidikan diperlukan untuk bersinergi bersama industri dan pemerintah
“Industri Kreatif sangat menjadi prioritas pengembangannya. Saya baca, di Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa, industri kreatif menyumbang sangat besar bagi ekonomi hidup mereka. Indonesia mestinya tidak kalah karena budayanya begitu banyak.” (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Mingguan “Tempo”, Edisi 29, 29 Oktober – 4 November 2007)
Entrepreneurship dan Creative Industry: Sejola Sejoli
13 Pemain Utama Industri Kreatif (Mingguan “Swasembada”, No. 23, 25 Oktober – 7 November 2007):
– Arsitek
– Ekspor Film
– Industri Craft (fashion-garment, jewelry, aksesori, gift item, houseware, dan wooden toys)
– Industri Desain Visual (animasi, desain grafis, periklanan, dan multimedia)
– Penata Rambut
– Industri Desainer Fashion
– Industri Seni dan Barang Antik
– Industri Film dan Fotografer
– Industri Televisi dan Radio
– Industri Publishing
– Industri Software dan Komputer
– Musik, Visual, dan Performing Art
– Industri Periklanan
Entrepreneurship dan Creative Industry: Sejola Sejoli
“Kurikulum pendidikan yang konservatif perlu diubah dan dibawa ke arah dukungan tumbuhnya kreativitas. Kebijakan pun perlu dibuat berpihak pada peluang dan upaya bagi tumbuhnya industri kreatif.” (Mike Hardy, Direktur British Council, 29 Oktober 2008)
Di Indonesia, salah satu kota yang mampu mengembangkan industri kreatif adalah Bandung dengan 400 outlet fashion, desain, dan musik. Sebagian besar dijalankan para pengusaha muda berusia 15 – 25 tahun. Kontribusi industri kreatif Indonesia mencapai 33 persen pendapatan negara, jauh lebih besar daripada gas dan minyak bumi yang hanya berkisar 6 persen
Entrepreneurship dan Creative Industry: Sejola Sejoli
(World Small & Medium Enterprise Expo, Hongkong, pertengahan Desember 2007):
– Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memproduksi barang hanya sebagian kecil. Sebagian besar adalah UKM yang bergerak berada di wilayah industri jasa. UKM yang hadir di pameran itu mulai dari mereka yang bergerak dalam jasa konsultasi rekayasa, produsen produk industri kreatif, hingga jasa akreditasi produk pertanian organik. Mereka lebih banyak menjual pemikiran dan ide dibandingkan dengan membawa produk-produk nyata
– UKM terus bertumbuhan dan berkembang. Anak-anak muda akan makin terlibat dalam usaha yang tergolong praktis, penuh ide, dan dengan jumlah tenaga kerja yang tidak banyak. Hingga saat ini industri jasa tetap menjadi fokus mereka. Sudah saatnya UKM Indonesia mulai mengembangkan diri berbasis industri jasa, termasuk di dalamnya industri kreatif
Pekerjaan Rumah for All
Pengangguran intelektual harus menjadi cermin bagi pemerintah (dan kita semua!) untuk berkaca dan berani memperbaiki kebijakan pendidikan yang secara sistemik mematikan kreativitas dan inovasi, yaitu kebijakan yang sejak tingkat SD sampai SLTA, bahkan perguruan tinggi yang menyiapkan para mahasiswa yang hanya mampu menjawab soal-soal, tetapi tidak mampu memecahkan persoalan kehidupan. Tidak mengherankan jika banyak dari mereka yang menjadi penganggur
“Entrepreneurs are simply those who understand that there is little difference between obstacle and opportunity and are able to turn both to their advantage.”
Victor Kiam
you can download this presentation by click right here
February 26th, 2008